Sabtu, 14 Mei 2016

Potret Buram Pendidikan Kita



NAMA                  : YOVITA PORSIANA NANA
KELAS                   : A          
NIM                       : 13115049

POTRET BURAM PENDIDIKAN KITA
Sejak dahulu ,nenek moyang kita sudah menulis pada batu,daun atau pun kayu dan pohon.instrumenn yang dipakai jelas akan lapuk seiring berjalannya waktu.
                Seiring berjalannya waktu,sekelompok orang mulai mendirikan tempat belajar yang keudian menampung banyak orang . disitulah mereka belajar baca dan tulis serta ilmu pengetahuan lainnya,walaupun masih sederhana.
                Pada zaman belannda,hampir tidak ada sekolah untuk pribumi.pemerintah belanda melarang yang kita kenal sebagai pencipta indonesia raya saja mnambahakan kata rudolf di belakang namanya agar tidak diketahui bahwa ia orang pribumi sehingga ia dapat bersekolah. Namun lambat laun di ketahui ,dan beliau di keluarkan dari sekolah.
                Ketika penjajahan semakin menekan dan masyarakat semakin menderita ,maka sadralah bangsa kita bahwa kita mudah di bodohi sebap tak punya pengetahuan sebagai dasar kuat dan sekolah-sekolah mulai di dirikan.sekolah-sekolah yang di tutup jepang kemudian di buka lagi.dan titik kemerdekaan mulai nampak.tentara jepang merasa terdesak dan tertantang. Alhasil,kita dapat meraih kemerdekaan .bukan semata-mata karena perang gerilya dengan bambu runcing,namun pemuda kita punya senjata dan strategi yang lebih halus namun mematikan untuk mengusir penjajah.
                Lalu bagaimana skarang? Pada zaman ini dunia sudah selebar daun kelor.informasi mudah di dapat. Apa yang di dapat apa yang terjadi di negara lain,bisa dengan gampang kita akses dari ‘’om Google’’. Perkembangan puntak kalah hebatnya.
                Tak hanya itu. Ada buku elektronik video pendidikan,mesin penrjemah,serta sarana lain yang memberikan kemudahan untuk belajar dan mencari tahu yang lbih banyak lagi
                Sayangnya,semuanya itu membuat kita menjadi malas. Fasilitas memadai,namun kita sering bermaental instan.kita tidak mau menerima umpan dan mata kail . kita mau ikan. Penyelesaian tugas sekolah atau kuliah cukup di cari di google ,copy paste,edit dan ganti nama.tak jarang giru dan dosen mengharuskan tugas rumah di tulis tangan.kita lantas mengeluh,’’ni dosen seperti sonde kenal teknologi sa...materi banyak begini suruh tulis tangan ...kowh ketik sa kenapa eeee’’? Namun,pendidikan sebenarnya mau melatih kita untuk lebih bertangguny jawab.
                 NNT sering dilihat sebelah mata dalam hal pendidikan.kelulusan kita tiap tahun tidak setingkat daerah-daerah lainnya.kita pun di anggap tertinggal dalam hal pendidikan dan kita masih miskin dalam SDM.
                Ketika berbicara mengenai pendidikan,tentu banyak komponen yang bermain di dalamnya seperti orangtua sebagai pendidik utama ,guru sebagai pendidik lanjutan ,serta pemerintah sebagai pengatur .ketika komponen ini tentu harus saling melengkapi.
                Lalu bagaimana dengan orangtua? Peran orang tua adalah mengawasi serta mendorong minat anak untuk berusaha.ibu saya selalu membantu dan menemani saya membuat PR ketika tengah berkumpul bersama di ruang makan.ayah selalu bertanya “tadi berapa guru (datau dosen) yang tidak masuk kelas,ada PR ?’’ sebenarnya ungkapan –ungkapan diatas merupakan bukti keterlibatan orang tua secara penuh dalam pendidikan anak.mereka tidak hanya membiayayi namun ikut berjung bersama anak.
                Namun yang sering terjadi justru sebaliknya. Guru-guru modern kadang mesti diberi pelicin untuk menjalankan tugasnya.jika tidak,’’aaaah,untuk apa? Tidak ada untungnya bagi saya ‘’.dana beasiswa yang diperuntukan bagi siswa mampu berekonomi lemah,malah di lahap oknum-oknum tak bertanggung jawab.
Sisiwa dan mahasiswapun jarang memberikan konstribusi yang baik dalam pendidikan lihat saja tas-tas kulih atau sekolah yang seharusnya penuh berisi buku malah di dominasi oleh barang barang tidak berguna.waktu kosong di kelas bukan diisi dengan belajar atau keperpustakaan namun lebih banyak dengan bercerita telponan atau sms-an .
                Coba kita ke kampung.disana da banyak sekali anak seusia kita yang tidak sekolah .hari-hari mereka di lewati dengan bekerja di sawah ,kebun atau pun pada angkutan.mereka tidak bodoh.mereka hanya tidak memiliki kesempatanuntuk sekolah seperti kita.
                Untuk mencapai keberhasilan,perlu di tunjang dengan pengorbanan dean krja keras nenek moyang kita saja punya semangat belajar yang berapi-apiuntuk belajar walaupun dengan sarana yang masih sangat sederhana.dengan pendidikan ,pemuda zaman perang mampu menggusir penjajah dan membela bangsa .dengan pendidikan pun kita mampu membawa NTT menuju perubahan.                                                                                        

                Alamat blog;vitanana.blogspot.co.id

Tidak ada komentar:

Posting Komentar