PERKEMBANGAN PESERTA DIDIK
Oleh : Melki E. Otu
No Registrasi : 13115060
Pengaruh Sosial dalam Perkembangan Peserta Didik
Pendahuluan
Peserta didik itu terhitung sejak kita lahir. Karena
dari lahir sampai kira-kira 2 tahun, bayi mulai belajar untuk memahami dunia
mereka lewat tindakan-tindakan fisik dan pengetahuan mereka terbatas pada
kejadian saat ini atau tidak jauh dari waktu lampau. Pada usia 2 tahun ketika
mulai bisa berbicara dan menggunakan pikiran untuk memahami keadaan sekitarnya
mereka telah mamasuki tahap praoperasional
dari tahap sebelumnya yaitu tahap sensorimotor.
Meskipun demikian pada tahap ini pikiran mereka masih pralogis. Normalnya anak-anak mengembangkan
keterampilan-keterampilan berbahasa dasar sebelum masuk sekolah. Perkembangan
bahasa meliputi dua-duanya, komunikasi lisan dan tertulis. Kemampuan-kemampuan
verbal berkembang amat dini, dan menjelang usia 3 tahun, peserta didik-peserta
didik sudah menjadi pengoceh yang terampil.
Menurut E.B Hurlock perkembangan bersifat kualitatif dan
kuantitatif, artinya proses perkembangan ada yang dapat diukur dan adapula yang
tidak dapat diukur. Misalnya perkembangan otak manusia tidak dapat kita lihat
proses perkembangannya, yang kita lihat adalah gejala-gejalanya. Demikian
pengertian dari perkembangan itu sendiri.
Selanjutnya
pengertian pertumbuhan menurut Drs. H. M. Arifin, M.Ed, pertumbuhan merupakan
suatu penambahan dalam ukuran bentuk, berat atau ukuran dimensif serta
bagian-bagiannya. Dalam pengertian tersebut dapat kita ambil gagasan bahwa
manusia dikatakan mengalami pertumbuhan jika dalam dirinya terjadi penambahan
fisik, misalnya bertambah tingginya tubuh individu, penambahan berat badan dan
ukuran bentuk dari bagian-bagian tubuh individu. Hal ini menandakan bahwa
pertumbuhan bersifat kuantitatif.
Sekarang kita tahu perbedaan perkembangan dan
pertumbuhan, dimana keduanya merupakan bentuk perubahan dalam diri
individu. Dalam pengertian yang
kita kemukakan di depan perkembangan manusia bersifat kualitatif. Intinya bahwa
pengertian pertumbuhan dapat mencakup pengertian perkembangan, namun pengertian
perkembangan tidak semuanya diartikan dalam petumbuhan. Perkembangan mengacu
pada bagaimana seorang tumbuh, beradaptasi, dan berubah disepanjang perjalanan
hidupnya. Orang tumbuh, beradaptasi, dan berubah melalui perkembangan fisik,
perkembangan kepribadian, perkembangan sosioemosional (sosial dan emosi),
perkembangan kognitif (berpikir), dan perkembangan manusia menurut teori Piaget
(kognitif dan moral) serta teori perkembangan kognitif menurut Lev Vygotsky.
Setidaknya ada lima faktor yang dapat memengaruhi kinerja peserta didik kita,
yaitu lingkungan keluarga, atmosfer persekawanan, sumber daya sekolah,
kecerdasan yang berasal dari dalam diri sendiri, dan aksesibilitas pencapaian
informasi.
Pertumbuhan dan perkembangannya yang dialami oleh peserta didik sangat dipengaruhi oleh 3 faktor, yaitu faktor pembawaan ( warisan ), faktor lingkungan dan faktor kematangan ( internal ).
Pertumbuhan dan perkembangannya yang dialami oleh peserta didik sangat dipengaruhi oleh 3 faktor, yaitu faktor pembawaan ( warisan ), faktor lingkungan dan faktor kematangan ( internal ).
Perkembangan
Sosial pada Anak-anak, dan Remaja
Berkat perkembangan sosial anak dapat menyesuaikan
dirinya dengan kelompok teman sebayanya maupun dengan lingkungan masyarakat
sekitarnya. Dalam proses belajar di sekolah, kematangan perkembangan sosila ini
dapat dimanfaatkan atau dimaknai dengan memberikan tugas-tugas kelompok, baik
yang membutuhkan tenaga fisik maupun tugas yang membutuhkan pikiran. Hal ini
dilakukan agar peserta didik belajar tentang sikap dan kebiasaan dalam bekerja
sama, saling menghormati dan betanggung jawab.
Pada masa remaja berkembang ”social cognition”,
yaitu kemampuan untuk memahami orang lain. Ramaja memahami orang lain sebagi individu
yang unik, baik menyangkut sifat pribadi, minat,nilai-nilai, maupun
perasaannya.
Pada masa ini juga berkembang sikap ”conformity”,
yaitu kcenderungan untuk menyerah atau megikuti opini, pendapat, nilai,
kebiasaan, kegemaran atau keinginan orang lain (teman sebaya).
Apabila kelompok teman sebaya yang diikuti menampilkan
sikap dan perilaku yang secara moral dan agama dapat dipertanggungjawabkan maka
kemungkinan besar remaja tersebut akan menampilkan pribadinya yang baik.
Sebaliknya, apabila kelompoknya itu menampilkan sikap dan perilaku yang
melecehkan nilai-nilai moral maka sangat dimungkinkan remaja akan melakukan
perilaku seperti kelompoknya tersebut.
Faktor-faktor
Yang Mempengaruhi Perkembangan Peserta Didik
Perkembangan
sosial manusia dipengaruhi oleh beberapa faktor yaitu: keluarga, kematangan
anak, status ekonomi keluarga, tingkat pendidikan, dan kemampuan mental
terutama emosi dan inteligensi.
(1)
Keluarga merupakan lingkungan pertama yang memberikan pengaruh terhadap
berbagai aspek perkembangan anak, termasuk perkembangan sosialnya. Kondisi dan
tata cara kehidupan keluarga merupakan lingkungan yang kondusif bagi
sosialisasi anak. Di dalam keluarga berlaku norma-norma kehidupan keluarga, dan
dengan demikian pada dasarnya keluarga merekayasa perilaku kehidupan anak.
Proses
pendidikan yang bertujuan mengembangkan kepribadian anak lebih banyak
ditentukan oleh keluarga. Pola pergaulan dan bagaimana norma dalam menempatkan
diri terhadap lingkungan yang lebih luas ditetapkan dan diarahkan oleh
keluarga.
(2)
Bersosialisasi memerlukan kematangan fisik dan psikis. Untuk mampu
mempertimbangan dalam proses sosial, memberi dan menerima pendapat orang lain,
memerlukan kematangan intelektual dan emosional. Di samping itu, kemampuan
berbahasa ikut pula menentukan.
Dengan
demikian, untuk mampu bersosialisasi dengan baik diperlukan kematangan fisik
sehingga setiap orang fisiknya telah mampu menjalankan fungsinya dengan baik.
(3)
Kehidupan sosial banyak dipengaruhi oleh kondisi atau status kehidupan sosial
keluarga dalam lingkungan masyarakat. Masyarakat akan memandang anak, bukan
sebagai anak yang independen, akan tetapi akan dipandang dalam konteksnya yang
utuh dalam keluarga anak itu.
Dari
pihak anak itu sendiri, perilakunya akan banyak memperhatikan kondisi normatif
yang telah ditanamkan oleh keluarganya. Sehubungan dengan itu, dalam kehidupan
sosial anak akan senantiasa “menjaga” status sosial dan ekonomi keluarganya.
Dalam hal tertentu, maksud “menjaga status sosial keluarganya” itu
mengakibatkan menempatkan dirinya dalam pergaulan sosial yang tidak tepat. Hal
ini dapat berakibat lebih jauh, yaitu anak menjadi “terisolasi” dari
kelompoknya. Akibat lain mereka akan membentuk kelompok elit dengan normanya
sendiri.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar